Please enter your e-mail address. We will send your password immediately.

Bahan Paling Penting Dalam Pernikahan Percaya itu muncul dari standar. Kalau nggak ada standar yang diikuti, sulit bagi kita untuk bisa mempercayai orang lain, atau mengharap orang lain percaya kepada kita Dalam pertandingan sepakbola, ke 11 pemain berikut ofisialnya percaya kepada wasit sebab wasit itu mengikuti standar tertentu, bukan hanya berdasarkan perasaan atau insting Begitu juga kita percaya dan yakin ketika satu produk sudah memiliki ISO atau standar dunia. Bersamaan dengan kepercayaan itulah, maka harga produk akan meningkat, lebih bernilai Begitu juga pernikahan, dimana bahan paling utamanya adalah kepercayaan atau TRUST. Usia dan kualitas pernikahan itu sangat ditentukan oleh standar yang dipakai oleh pasangan suami istri Bila standarnya perasaan, atau hanya kira-kira, wajar kita menemukan banyak sekali kesulitan dan kegaduhan dalam rumah tangga. Karena standarnya berubah-ubah Misal, seorang suami yang standarnya "Yang Penting Baik", ini akan sangat membingungkan istri, apa standar baik? Apakah selingkuh tapi tetap memberi nafkah anak dan istri adalah baik? Sama seperti seorang istri yang standarnya "Yang Penting Rumah Beres", akan menjadi masalah bagi suami, apa standar rumah beres? Apakah punya 10 pembantu, lalu si istri terus keluyuran, artinya beres? Jelas banget, standar itu bukan datang dari suami, bukan juga istri. Tapi datang dari yang sudah kita sepakati kepastiannya, yaitu dari Allah. Dan Allah ngasih standar itu di agama. Itu jelas, rinci dan detail Maka suami yang baik itu ada standarnya di dalam Islam, begitu juga istri yang baik. Kalau standarnya jelas, ukurannya, koreksinya, juga mudah. TRUST bisa muncul dalam rumahtangga Jadi kebanyakan problem rumah tangga, ya dimulai sebelum pernikahan. Milih pasangannya yang nggak standar sih. Atau bisa jadi dianya yang nggak standar. Ya salam kalau gitu *Pose Tony Tony Chopper pas lagi mengintip 😁😁😁
Alhamdulillah, kelas sejarah Heritage Of Ottoman #1 dan #2 bisa terlaksana dengan baik. Kedua kelas ini membuat saya secara pribadi juga belajar banyak, tentang persaudaraan, kekeluargaan, dan kebaikan Yang terpenting, sesuai dengan visi dari kelas sejarah "Heritage Of Ottoman" ini, saya berharap bahwa peserta-peserta yang sudah mengikuti kelas online, offline, dan ptaktek ini bisa menemukan apa yang bisa dikontribusikan terbaik untuk dakwah Islam Dari sekitar 3 jam pembelajaran online, 2 jam pembelajaran offline, dan 10 hari 9 malam perjalanan ini, kita bukan hanya jadi sekedar guru dan murid, tapi juga keluarga, seperti ayah dan ibu, kakak dan adik, mengikat pikir dan rasa di tiap lintasan waktu Bukan hanya nilai-nilai yang terucap lisan, tapi juga makna-makna yang disampaikan hati, atau semua ibrah yang bisa ditangkap oleh jiwa, kesemuanya jadi pelajaran yang pastinya bermakna untuk dakwah kedepan Selesai mengikuti kelas sejarah "Heritage Of Ottoman", bukan berarti menjadi alumni, tapi menjadi bagian perjuangan dakwah secara lebih dalam, berusaha mengekang hawa nafsu untuk memunculkan ghirah ke-Islaman, menyampaikan Islam yang kita cintai dengan cara penuh keindahan Sebab itulah warisan yang selalu kita berusaha dapat dari perjalanan kita. Tentang kecintaan mereka yang mendahului kita kepada agama dan keimanan, tentang mendapatkan manisnya ibadah dan nikmatnya beramal salih, tentang menjadi manusia yang diingat oleh sejarah kebaikan Muhammad Al-Fatih bukan manusia super, ia hanya satu puncak dari generasi hebat yang dilahirkan. Konstantinopel bukan akhir kisah, ia hanya pemula dari janji Nabi Muhammad, yaitu kabar kepastian kebangkitan Islam di masa yang semakin dekat datangnya Semoga kelas-kelas ini, adalah bagian dari mereka, yang terus berusaha, untuk mempersembahkan yang terbaik dari dirinya, agar mampu dikontribusikan untuk dakwah Islam Thanks to @terangtrip yang sudah memfasilitasi kelas sejarah ini, juga buat @sigpras yang merekam kenangan-kenangan kita dengan keren 😁😁😁
Yang Istimewa Dengan Pilihan Istimewa Kita bisa melihat kemana arah tujuan seseorang dari perkara-perkara kecil yang dia perbuat, apalagi hal-hal besar yang dia pilih dalam hidupnya. Karena hidup itu adalah hasil pilihan-pilihan yang dibuat seseorang Kalau dulu, pilihan belajar pas SMP akhirnya menentukan jurusan IPA atau IPS di SMU, yang akhirnya menentukan pilihan kuliah dimana dan jurusan kuliah. Yang akhirnya menjadikan siapa diri kita Sederhananya, bila dia tinggal di Jakarta dan mau ke Surabaya, jalannya ya ke arah timur, andai dia mau ke Palembang, jalannya ya ke arah barat. Keseriusan kita, ditentukan pilihan kita, sesuai tujuan atau tidak Seseorang yang menginginkan ridha Allah dalam hidupnya, pastinya akan menghabiskan waktunya sebagian besar untuk mencaritahu apa yang Allah inginkan darinya, dan berbuat maksimal untuk itu Dia akan pelajari Islam, mencintai Islam, mendakwahkannya. Andai dia punya harta, dia bantu mereka yang di jalan Allah, jika ia tak punya harta, ia akan mencari apa yang bisa dimanfaatkan dari dirinya di jalan Allah Andai dia lelaki, maka dia takkan habiskan waktu, tenaga dan uang, kecuali itu berkepentingan dengan agamanya. Pun andai dia berhibur, ia hibur dirinya dengan perkara yang manfaat dan jauh dari maksiat Perkara ummat sudah menyita pikirannya, hingga ia tak lagi sempat merasa menyesal ketika ia belum memiliki kendaraan mewah. Amal ibadahnya lebih dikhawatirkan dibandingkan angka di buku tabungannya Andai dia wanita, maka ia jaga kehormatannya, memenuhi jiwanya dengan iman dan tsaqafah Islam yang pada gilirannya membentuk karakter ksatria Islam pada anak-anaknya, ia latih dirinya dengan ibadah Tak lagi sempat ia bergoyang memamerkan elok tubuhnya, sebab perilaku anak-anak kian memilukan, sementara ia punya standar generasi semisal Salahuddin Al-Ayyubi atau Muhammad Al-Fatih Bukan berarti tak boleh menikmati dunia, bukan berarti tak boleh berhibur. Akan tetapi hidup juga bukan hanya tentang berlomba kemewahan dunia, atau bersolek dan berjoged. Tidak hanya itu juga Sebab tanggung jawab peradaban kita tak ringan. Kita adalah generasi yang dijanjikan dalam episode akhir dunia. Tentang kebangkitan Islam dan kejayaannya
Keperluan Bukan Kesempurnaan Banyak diantara lelaki yang salah kaprah, mencari istri sebab kesempurnaan, bukan karena keperluan. Bedanya jelas, yang sempurna itu nggak ada ujungnya, sedangkan yang diperlukan itu ada indikasinya Yang mencari istri sempurna, jelas sangat sulit, karena sempurna itu nggak ada ukurannya. Hari ini mungkin dapat walau susah, tapi besok pastinya rumput tetangga lebih hijau, karena akan terus ada yang lebih baik Sama seperti cari mobil yang sempurna, tahun ini beda dengan tahun besok, selera kini nggak sama dengan selera nanti. Yang ada, menyesal ketika sudah memiliki, sebab tak pernah mensyukuri yang ada disisinya Beda dengan mencari karena keperluan. Ukurannya menjadi jelas, karena tujuannya sudah pasti. Karena checklist keperluan itu disesuaikan dengan tujuan. Menemukannya, atau negoisasinya, jadi lebih mudah Beli mobil buat apa? Dalam atau luar kota yang lebih sering? Medannya seperti apa? Untuk aktivitas apa? Mobil keluarga atau pribadi? Selera klasik atau modern? Itu semua jelas ukurannya Andai seleranya klasik, dan hanya untuk dalam kota. Ketika sudah memilih berdasar keperluan, dan tiba-tiba mobil itu mogok di jalan, maka dia, tak menyesal, itu resiko pilihan, dan dia tetap bersyukur Jadi kesyukuran itu datang ketika keperluan itu dipenuhi. Challenger Hellcat nggak bakal disyukuri kalau keperluannya mengangkut kayu-kayu log. Dan jelas nggak perlu Fuso buat jalan di dalam kota Itu yang membuat saya memilih @UmmuAlila, karena saya punya keperluan yang matching dengan fitur-fiturnya @UmmuAlila. Dari situ munucul sakinah, ketenangan pada diri seorang suami πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ Ibarat mobil, @UmmuAlila itu seperti SUV heavyduty, bisa diajak susah, enak diajak mudah, muat banyak dengan harga terjangkau 🀣🀣🀣. Mungkin kalau satu saat punya rezeki, saya bisa punya "mobil" jenis lain, yang cross-over, atau yang.. Hahaha.. #DilemparSendal
Istimewa Bagi Allah Saya paling khawatir, andai kelak anak-anak saya meminta soal dunia sebagai impian pencapaiannya, atau mengukur prestasinya dengan indikasi-indikasi dunia Saya sedih, andai anak-anak saya menjadikan muscle sportscar sebagai tanda kesuksesan. Saya pilu andai anak-anak saya merasa bahwa keluar negeri adalah pertanda keberhasilan Saya nggak rela bila memiliki tabungan 9 digit terselip dalam doa anak-anak saya. Seperti sama saya tak mau kelak anak-anak saya membicarakan dunia lebih dari akhiratnya Saya nggak mau anak-anak saya seperti saya yang berbicara akhirat, tanpa sadar kesemuanya untuk menutupi keinginan saya yang begitu besar atas dunia Sebab, andai kemewahan itu adalah karunia yang mulia dalam pandangan Allah, tentu ia takkan diberikan pada orang yang nggak beriman Bila ada pemberian dari Allah yang bernilai dalam ukuran-Nya, tentu ia takkan diberi pada mereka yang nggak beriman. Pastinya hadiah itu hanya dikhususkan bagi mereka kekasih-kekasih Allah Maka saya minta tiap waktu pada anak-anak saya: Hidayah dan kenikmatan dalam ber-Islam Keistiqamahan dalam amal salih dan dakwah Manisnya dalam beribadah dan berkhalwat degan Allah Kekuatan dalam menanggung ujian, kesabaran dalam menjalaninya Kelembutan dalam akhlak dan adab, kebaikan dalam tutur katanya Kasih sayang pada orangtuanya, pada pasangannya, pada anak-anaknya Kecukupan dalam rezekinya, agar mudah dalam ibadahnya Sahabat-sahabat yang terus mengingatkan dirinya atas hak akhiratnya Kejelian dalam memandang visi dari Allah. Konsistensi untuk selalu memperjuangkannya Keridhaan untuk selalu merasa bahwa dunia hanya dititipkan padanya, untuk dibagikan pada manusia Kecintaan pada Allah dan Rasul melebihi apapun Keberanian dalam menepati janji Allah, dan ketaatan yang berterusan hingga mati
Pahala Pada Tiap Perut Kita diajarkan oleh Islam, bahwa pada tiap yang memiliki lambung, ada pahala disana. Maka tak ada beda dalam memberi makan anjing atau kucing, burung atau ikan, semua ada pahalanya Maka wajar dalam sejarah peradaban Islam, bahkan perhatian pada hewan-hewan sudah tertata sejak lama. Mengakar baik dalam akhlak perbuatan, maupun pada bentuk arsitektur Pada masa Utsmani, bahkan burung-burung difasilitasi tempat minum di tiap-tiap air mancur, dan kucing serta anjing diberikan wadah air di jalan-jalan umum Jangan tanya soal makanan, ummat Muslim juga terbiasa. Misalnya, masyarakat Utsmani juga punya tradisi menyebar gandum saat musim dingin, meneruskan contoh dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz Bila pada hewan saja Muslim perhatian, maka tak perlu lagi diragukan bila bagi manusia. Di sisi-sisi yang jarang diangkat oleh media, kebaikan Muslim pada manusia terlalu banyak untuk dinafikkan Karena agama Islam adalah agama kehidupan, agama kasih sayang sejak syahadatnya. Bahwa bila manusia sudah mencintai Allah, ia akan mencintai kehidupan Dan bila Allah sudah menyayangi seorang hamba, ia perintahkan hamba itu memperhatikan manusia, hewan, bahkan alam. Hingga penduduk langit dan bumi pun mencintai hamba itu Hanya saja kita, manusia yang selalu berusaha mencapai derajat Muslim yang lebih baik, yang seringkali gagal dalam mencontohkan kebaikan itu, tak sehebat generasi-generasi di awal Allahummaghfirlana..
Mengajari Hati Semenjak kehilangan bapaknya, @ummualila jelas lebih peka perasaannya. Tiba-tiba menangis, keingetan bapak katanya. Nggak ada satu apapun, lalu meluk tangan saya erat, pengen deket katanya Unik memang namanya perasaan itu, apalagi wanita, jadi kuadrat susah dimengertinya. Tapi Allah memang berikan cinta itu bukan untuk dipahami, tapi untuk diterima dan dinikmati, bukan dipikir tapi dirasa Ada banyak jalan menuju keridhaan Allah, dan semuanya harus dilakukan atas dasar cinta, sebagaimana nama Allah yang paling banyak dikenal, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, kasih dan sayang, cinta Diantara yang paling mudah pahalanya, mencintai seseorang karena Allah. Yang artinya menaruh Allah sebagai yang utama dan utama, mencintai yang dicintai oleh Allah semata Ngomongnya sih enak, penerapannya banyak yang modus. Ada yang bilang cinta karena Allah, tapi malah maksiat. Ada yang ngaku cinta karena Allah, tapi Allah dan Rasul nggak didahuluin Teorinya sih mudah, tapi prakteknya itu setengah mati. Karena dalam perjalanannya, ternyata kita lebih cinta dunia ketimbang Allah, lebih sayang manusia ketimbang Allah Jadi saya tau, setelah @ummualila kehilangan bapaknya, kayaknya dia berpikir, "Gimana kalau aku juga kehilangan suami?". Mungkin itu yang buat dia sedih dan susah Dari situ juga saya jadi paham, tugas saya yang berikutnya adalah nyiapin @ummualila, kalau satu saat nanti kita pasti pisah. Karena manusia itu nggak ada pilihan kecuali bakal mati Perasaan itu jangan dibiarin, dia bakal nelikung kalau kita nggak waspada. Mungkin awalnya kita menikah sebab cinta karena Allah, tapi bisa jadi besok kita lebih cinta manusia dari Allah Sekali lagi, teori sih mudah. Tapi selagi kita masih dikasih hidup, latih rasa kita untuk mensyukuri orang-orang yang kita cintai, dan ingatlah selalu yang memberi nikmat ini, lebih dari siapapun dan apapun