Please enter your e-mail address. We will send your password immediately.

Stories 2 stories
Ada begitu banyak bintang di alam semesta, salah satunya adalah Matahari kita. Para astronom memperkirakan Matahari kita berusia 4,5 miliar tahun, bagaimana mereka bisa mengetahuinya atau memperkirakannya? Tidak seperti manusia, bintang tidak perlu usaha apapun untuk menyembunyikan usia mereka. Tapi manusia dan bintang memiliki satu kesamaan: Bintang akan melambat (dalam berotasi) ketika mereka menua. Inilah sebuah keuntungan tersendiri bagi manusia untuk mengetahui usia bintang. Dilansir Iflscience.com, berkat pengamatan melalui Teleskop Antariksa Kepler, para astronom menunjukkan bahwa mereka secara akurat dapat menentukan usia bintang mirip Matahari dengan seberapa cepat bintang-bintang tersebut berputar. Mempelajari usia bintang adalah sebuah hal yang penting bagi banyak penelitian astronomi, khususnya untuk pencarian planet di luar Tata Surya kita (eksoplanet), dan tentu saja kehidupan di luar Bumi. Mengingat bahwa bintang dan planet bisa terbentuk bersama-sama, jika kita bisa mengetahui usia bintang, maka kita dapat menentukan usia planet-planet yang mengitarinya. Dengan begitu, kita bisa menjadi planet mana yang berusia tua. Karena semakin tua usia planet, kemungkinan menemukan kehidupan luar Bumi menjadi lebih besar. Menurut penelitian ini, ada hubungan erat antara massa, rotasi bintang, dan usianya. Jika massa dan rotasi bintang dapat diukur, maka usia bintang juga dapat dihitung. Untuk mengukur rotasi bintang, para astronom biasanya mengobservasi bercak-bercak hitam pada permukaan bintang, yang disebut sebagai bintik bintang. Namun, ketika para astronom melihat bintang-bintang yang berjarak sangat jauh, mereka tidak bisa langsung melihat bintik-bintik bintang ini. Dengan begitu, para astronom mengamati sesuatu yang lain, yakni mencari kedipan pada cahaya bintang ...lanjut dibagian comment Sumber: infoastronomy.org =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Hhmm… Hhmm… Bisakah para astronaut mencium bau ruang angkasa? Kalau bisa, seperti apa, ya, bau ruang angkasa? Ruang Hampa Udara Ruang angkasa adalah ruang yang hampa udara. Artinya, tidak ada oksigen di ruang angkasa. Kalau tidak ada oksigen, manusia tidak bisa bernapas dan tidak bisa hidup. Itulah sebabnya, astronaut yang bekerja di luar pesawat ruang angkasa atau di luar Stasiun Ruang Angkasa Internasional, harus memakai helm dan baju astronaut. Helm dan baju astronaut telah dilengkapi oksigen agar astronaut dapat bernapas.  Hidung Tertutup Helm Saat astronaut bekerja di ruang angkasa, seluruh tubuhnya tertutup rapat. Hidungnya pun tertutup helm. Jadi, bagaimana astronaut bisa mencium bau ruang angkasa, ya?! Ya, itu betul. Astronaut memang tidak bisa mencium bau ruang angkasa secara langsung karena hidungnya saja tertutup helm. Baunya Menempel Ternyata, meskipun hidungnya tertutup helm, astronaut bisa mencium bau ruang angkasa secara tidak langsung. Bagaimana caranya? Ketika astronaut selesai bekerja di luar pesawat atau di luar stasiun ruang angkasa, ia masuk kembali ke pesawat atau ke stasiun ruang angkasa dan melepaskan baju astronautnya. Nah, ternyata, bau ruang angkasa menempel pada baju astronautnya. Dari bau yang menempel itulah astronaut bisa mengetahui bau ruang angkasa seperti apa!  Baunya Seperti …Lanjut dibagian comment Sumber: bobo.grid.id =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Astronom dan juga kita tentu ingin tahu apakah ada kehidupan lain di planet lain di Alam Semesta. Hari ini ada pengumuman penting tentang tanda kehidupan dari planet tetangga Bumi. Molekul Spesial Hari ini, tim astronom internasional mengumumkan penemuan fosfin di atmosfer Venus. Fosfin adalah molekul langka yang dianggap sebagai tanda kehidupan! Di Bumi, molekul ini biasanya diproduksi oleh mikroba khusus yang hidup pada lingkungan tanpa oksigen. Tentu saja ini bukan hal biasa karena makhluk hidup di Bumi memerlukan oksigen untuk bisa bertahan hidup. Sudah lama memang para astronom menduga bahwa awan tinggi di Venus bisa menjadi rumah bagi mikroba. Ini karena semakin tinggi dari permukaan Venus, suhunya semakin hangat. Kalau tetap berada di permukaan, tentu saja kehidupan tidak bisa bertahan karena suhunya sangat panas. Meskipun pada awan tinggi suhunya cukup hangat yakni 30ºC, bagian mengandung asam yang sangat tinggi. Karena itu, lokasi ini pun masih tidak nyaman untuk mikroba yang sedang mencoba bertahan hidup. Kolaborasi dan Eksplorasi Masa Depan Molekul fosfin pertama kali dideteksi saat para astronom melakukan pengamatan dengan Teleskop James Clerk Maxwell di Hawai’i. Penemuan mengejutkan ini kemudian dikonfirmasi oleh teleskop radio Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chili. Penemuan ini penting karena para astronom bisa mengesampingkan kemungkinan lain pembentukan fosfin. Akan tetapi, mereka juga memahami bahwa untuk mengonfirmasi penemuan kehidupan di Venus masih butuh waktu dan penelitian yang lebih akurat. Jadi di masa depan, akan ada lebih banyak penelitian yang dilakukan baik dari Bumi maupun oleh wahana yang dikirimkan untuk mempelajari Venus. Dan pastinya masih akan ada banyak penemuan menarik. Sumber: Langitselatan.com Kredit gambar: Kredit: ESO/M. Kornmesser/L. Calçada & NASA/JPL/Caltech =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~bagaimana para astronom bisa menemukan lubang hitam? Bukankah tidak ada cahaya yang bisa lolos dari tarikan gravitasi lubang hitam, sehingga lubang hitam tidak bisa dilihat? Tunggu dulu, hanya karena kita tidak dapat melihat lubang hitam, bukan berarti kita tidak dapat mendeteksinya. Para astronom dapat mendeteksi lubang hitam dengan beberapa metode. Salah satunya adalah melihat gerak bintang dan gas di dekatnya, atau dengan melihat keanehan pada lingkungan di sekitarnya. Material-material di luar angkasa yang berada dekat lubang hitam juga akan berputar-putar mengelilingi lubang hitam, menciptakan piringan rata yang disebut cakram akresi. Materi yang berputar ini kehilangan energinya lalu "memuntahkan" radiasi dalam bentuk sinar-X dan radiasi elektromagnetik, sebelum akhirnya melewati cakrawala peristiwa. Ini adalah bagaimana para astronom mengidentifikasi lubang hitam Cygnus X-1 pada tahun 1971. Cygnus X-1 ditemukan ketika sistem bintang biner -- sistem dua bintang yang saling mengorbit -- memiliki satu anggota bintang yang sangat panas dan terang yang disebut maharaksasa biru, yang terlihat memiliki cakram akresi di sekitar obyek yang tak terlihat. Sistem bintang biner tersebut ternyata juga memancarkan sinar-X, yang menurut teori biasanya tidak diproduksi oleh bintang maharaksasa biru. Dengan menghitung seberapa jauh dan seberapa cepat bintang terlihat bergerak, astronom mampu menghitung massa obyek yang tak terlihat tersebut. Meskipun dipadatkan menjadi volume lebih kecil dari Bumi, massa obyek tak terlihat tersebut memiliki massa enam kali lebih besar dari massa Matahari kita! Beberapa percobaan yang berbeda untuk mempelajari Lubang Hitam juga dilakukan. Event Horizon Telescope misalnya, mampu melihat Lubang Hitam Supermasif yang berada di inti galaksi kita dan galaksi terdekat, M87 ...lanjut di bagian comment Sumber: Infoastronomy.org Gambar: Gargantua (interstellar) =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Tanpa adanya seragam luar angkasa, manusia akan kehilangan kesadaran 15 detik setelah ia berada di ruang hampa udara. 30 detik hingga 1 menit setelahnya, manusia akan langsung meninggal. Jika memakai seragam khusus, manusia punya waktu 6 jam sebelum semua cadangan oksigen habis, setelah itu, manusia tetap Meninggal. Bagaimana Jika Astronot Meninggal di Luar Angkasa? Stasiun luar angkasa tidak dilengkapi dengan ruang mayat. Hal tersebut dianggap tidak efisien. Selain itu, kemungkinan seorang astronot meninggal saat menjalankan misi juga sangat kecil. Ada dua solusi untuk masalah ini. Solusi pertama adalah menempatkan mayat di dalam seragam luar angkasa lalu diberi tekanan udara. Setelah itu, tubuhnya dipindahkan ke tempat yang lebih dingin di dalam pesawat. Tubuh orang meninggal akan mengeluarkan bakteri yang bisa berbahaya untuk mereka yang hidup. Biasanya astronot lain tidak ingin menyimpan mayat di dalam pesawat. Nah, solusi kedua adalah dengan membekukan tubuh mayat, lalu dihancurkan menjadi bagian-bagian kecil seperti dikremasi. Pembekuan bisa dilakukan menggunakan nitrogen. Jika tidak ada cukup nitrogen, maka suhu dingin luar angkasa bisa membuatnya membeku Dengan demikian, akan lebih mudah bagi yang lain untuk kembali ke bumi. Bisakah Mayat Astronot di Buang ke Luar Angkasa? Kalau awak kapal meninggal, maka mayat mereka akan dibuang ke laut dan bisa mengurai dengan sendirinya. Apakah hal yang sama bisa diterapkan pada mayat astronot, dengan membuang tubuh mereka di ruang angkasa yang hampa? Hmm, laut dan luar angkasa punya kondisi berbeda. Jika mayat astronot dibuang ke luar angkasa, maka tubuhnya akan mengambang dan mengikuti pesawat yang membuangnya. Ini jelas mengganggu perjalanan pesawat tersebut. Bisakah Mayat Astronot di Kubur di Planet Lain? ...lanjut dibagian comment =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Bumi punya satu satelit alami, yaitu Bulan. Satelit alami ini mengorbit Bumi dengan kecepatan yang pas. Selain Bulan, planet kita ini memiliki ribuan satelit buatan manusia yang juga mengorbit Bumi. Bulan memang tidak membutuhkan bahan bakar karena merupakan benda langit dan memiliki gravitasi. Namun, bagaimana dengan satelit buatan? Benda-benda buatan manusia ini juga bisa mengorbit Bumi tanpa jatuh. Bahkan satelit buatan itu mengorbit Bumi lebih cepat daripada Bulan yang jadi satelit alami, lo. Apakah satelit buatan juga membutuhkan bahan bakar untuk mengorbit Bumi dengan cepat? Satelit Buatan Bergerak dengan Kecepatan yang Pas. Ternyata satelit buatan tidak membutuhkan bahan bakar saat mengorbit Bumi. Lalu, bagaimana benda-benda itu bisa melayang-layang di ruang angkasa dan bahkan bisa mengitari Bumi? Nah, alasannya karena satelit buatan itu bergerak dengan kecepatan yang pas, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Kecepatan yang pas ini membuat satelit buatan bisa mengalahkan tarikan gravitasi Bumi. Jika bergerak terlalu cepat, satelit buatan bisa terlempar keluar dari orbit Bumi. Sedangkan jika bergerak terlalu lambat, satelit buatan bisa tertarik gravitasi Bumi sehingga jatuh ke permukaan Bumi. Dari Mana Kecepatan Itu Didapatkan? ...lanjut dibagian comment Sumber: bobo.grid.id =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Sosok kosmonot Uni Soviet Vladimir Komarov sangat tersohor dalam kisah penjelajahan manusia ke luar angkasa. Hal ini karena, ia sempat jatuh dari luar angkasa. Kisah Vladimir Komarov ini harus berakhir di usia dini karena mengalami kegagalan parasut hingga jatuh dari luar angkasa. Vladimir Komarov menjadi kosmonot Soviet pertama yang terbang ke luar angkasa lebih dari sekali. Kejadian ini juga yang menjadikannya manusia pertama yang meninggal dalam misi luar angkasa. Kosmonot muda ini diketahui meninggal saat kapsul ruang angkasa bernama Soyuz yang ia tumpangi jatuh ke tanah pada 24 April 1967 karena kegagalan parasut. Tragedi ini terjadi saat peringatan 50 tahun berdirinya Uni Soviet. Pemerintah Soviet meminta untuk dilaksanakan program luar angkasa yang besar. Leonid Brezhnev selaku pemimpin Uni Soviet ketika itu, memutuskan untuk melakukan aksi spektakuler dengan dua pesawat ruang angkasa buatan Soviet. Menurut rencana, kedua kendaraan luar angkasa ini akan diluncurkan lalu melakukan docking orbital dramatis yang memungkinkan kosmonot untuk bergerak antar kapal. Kapsul pertama dengan nama Soyuz 1 diluncurkan berisikan Vladimir Komarov di dalamnya. Keesokan harinya, kendaraan Soyuz 2 lalu diluncurkan dengan dua kosmonot lainnya. Sadar dengan sederet masalah , pusat kontrol di Bumi memutuskan untuk mengakhiri misi peluncuran Soyuz 2 dan mencoba untuk membawa pulang Vladimir Komarov. Berjuang sendirian selama lima jam usai peluncuran, Vladimir Komarov tetap berusaha menyelamatkan dirinya dan kapsul tersebut. Usai menyelaraskan kapsul dan menyalakan retrorock, ia sukses memasuki atmosfer Bumi. Saat kabin meluncur melewati atmosfer, parasut cadangan dan parasut utama sama sekali tidak keluar. Soyuz 1 kemudian jatuh dengan kecepatan tinggi dari atmosfer Bumi ke sebuah padang rumput di Orenberg. Kejadian ini seketika membunuh Vladimir Komarov. Yang ditemukan saat tim penyelamat Angkatan Udara Soviet hanyalah logam yang terbakar dan tubuh Vladimir Komarov yang terbakar hangus hingga hancur. Sumber: suara.com = •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F
~Penemuan astronomi menunjukan bahwa banyak sekali planet di alam semesta dan kebanyakan dari mereka berbeda dengan yang ada di Tata Surya kita. Planet WASP-76b salah satunya, melalui penelitian terbaru diketahui bahwa di sana sering terjadi hujan besi 2.400 derajat Celsius, cukup untuk melelehkan logam. Tingginya temperatur di Wasp-76b karena posisi planet ini yang sangat dekat dengan bintang yang ia kelilingi. Bintang ini seperti Matahari kita. Sementara di bagian lain, suhunya 1.000 derajat Celsius lebih rendah, yang bisa menyebabkan logam mengalami kondensasi dan menjadi hujan. Fitur Wasp-76b mirip dengan Bulan kita. Dari Bumi, kita selalu menatap sisi Bulan yang sama, tak berubah. Kita tak pernah melihat sisi lainnya. Demikian juga Wasp-76b. Sisi yang menghadap bintang yang dikelilinginya tak berubah. Pada sisi ini selalu siang hari, sementara sisi lainnya, yang memunggungi bintang, selalu malam hari. Akibatnya, sisi Wasp-76b yang selalu menghadap bintang, seakan terpapar panas yang luar biasa. Sebegitu panasnya, awan akan langsung menguap dan semua molekul di atmosfir langsung terpecah menjadi atom-atom. Tim dari Universitas Jenewa, Swiss menjelaskan kondensasi atau pengembunan terjadi di bagian planet yang tidak terpapar sinar. Di bagian yang tidak terpapar sinar, meski suhunya tetap saja panas, yaitu sekitar 1.400 derajat Celsius, masih tergolong cukup dingin untuk mengubah besi menjadi awan, kemudian menjadi hujan dan diperkirakan turun ke bawah layaknya butiran air. Sejauh ini, karena keterbatasan alat, tim pakar belum bisa memastikan apa yang terjadi ketika hujan besi ini memasuki lapisan atmosfir Wasp-76b yang lebih rendah. Planet ini berada 640 tahun cahaya dari Bumi dan hanya perlu waktu 43 jam untuk mengitari bintangnya. Sumber: kompas sains, national geographic indonesia =============================== •Like kalau kamu suka postingan ini ❤️ •Follow @bocahastronomi biar gak ketinggalan info mengenai Astronomi •Author: F